Transformation of Social Interaction Patterns among Adolescents in Tegal: A Comparison of Offline and Online Communication

Authors

  • Adzkar Baihaqi Zakaria Pancasakti University Tegal
  • Diryo Suparto Pancasakti University Tegal
  • Sarwo Edy Pancasakti University Tegal

DOI:

https://doi.org/10.37826/spektrum.v14i1.1228

Keywords:

Social Interaction, Adolescent, Social Media, SIP Theory, Tegal City

Abstract

This research originates from the phenomenon of shifting communication patterns among adolescents, which are now increasingly mediated by mobile screens rather than direct physical encounters. The primary focus of this study is to conduct an in-depth analysis of the transformation in the frequency and characteristics of social interactions among teenagers in Tegal City as they transition from offline spaces to the online realm. Employing a descriptive qualitative approach through a comparative study, primary data were obtained from semi-structured interviews with informants aged 15–18. Social Information Processing (SIP) Theory serves as the analytical framework to observe the adaptation of social cues in the digital world. The results reveal that despite high daily social media usage—averaging more than 3 to 4 hours—the substantial intensity of conversation has not undergone a drastic change. Adolescents tend to compensate for the loss of non-verbal cues by using visual symbols, such as emojis and stickers, to minimize misunderstandings. Interestingly, the local identity in the form of the Tegal-Javanese dialect persists as a tool for building emotional closeness in both mediums. This study concludes that while social media excels in terms of coordination, organic intimacy and conflict resolution still rely on the richness of face-to-face interaction. The resulting transformation has birthed a hybrid interaction pattern, where the digital universe functions as a medium for relationship maintenance, while physical meetings remain the primary anchor for building emotional depth and mutual trust.

Author Biographies

Adzkar Baihaqi Zakaria , Pancasakti University Tegal

Penelitian ini berpangkal pada fenomena pergeseran komunikasi remaja yang kini lebih banyak dimediasi oleh layar ponsel dibandingkan pertemuan fisik secara langsung. Fokus utama studi ini adalah menganalisa secara mendalam transformasi frekuensi dan karakteristik interaksi sosial remaja di Kota Tegal saat beralih dari ruang luring ke ranah daring. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi komparatif, data primer diperoleh dari hasil wawancara semiterstruktur terhadap informan berusia 15-18 tahun. Social Information Processing (SIP) Theory digunakan sebagai kerangka analisis untuk melihat adaptasi isyarat sosial di dunia digital. Hasil penelitian mengungkap bahwa meskipun durasi harian di media sosial sangat tinggi—rata-rata melebihi 3 hingga 4 jam—intensitas mengobrol secara substansial tidak mengalami perubahan drastis. Remaja cenderung melakukan kompensasi atas hilangnya isyarat non-verbal melalui penggunaan simbol visual seperti emoji dan stiker untuk meminimalisir salah paham. Uniknya, identitas lokal berupa bahasa Jawa Tegalan tetap eksis sebagai alat pembangun kedekatan emosional di kedua medium tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meski media sosial unggul dalam hal koordinasi, keintiman yang organik dan resolusi konflik tetap bertumpu pada kekayaan interaksi tatap muka. Transformasi yang terjadi justru melahirkan sebuah pola interaksi hibrida, dimana jagat digital berperan sebagai medium untuk menjaga kesinambungan hubungan (relationship maintenance), sementara pertemuan fisik tetap memegang kendali utama dalam membangun kedalaman emosional serta rasa saling percaya.

Diryo Suparto, Pancasakti University Tegal

Penelitian ini berpangkal pada fenomena pergeseran komunikasi remaja yang kini lebih banyak dimediasi oleh layar ponsel dibandingkan pertemuan fisik secara langsung. Fokus utama studi ini adalah menganalisa secara mendalam transformasi frekuensi dan karakteristik interaksi sosial remaja di Kota Tegal saat beralih dari ruang luring ke ranah daring. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi komparatif, data primer diperoleh dari hasil wawancara semiterstruktur terhadap informan berusia 15-18 tahun. Social Information Processing (SIP) Theory digunakan sebagai kerangka analisis untuk melihat adaptasi isyarat sosial di dunia digital. Hasil penelitian mengungkap bahwa meskipun durasi harian di media sosial sangat tinggi—rata-rata melebihi 3 hingga 4 jam—intensitas mengobrol secara substansial tidak mengalami perubahan drastis. Remaja cenderung melakukan kompensasi atas hilangnya isyarat non-verbal melalui penggunaan simbol visual seperti emoji dan stiker untuk meminimalisir salah paham. Uniknya, identitas lokal berupa bahasa Jawa Tegalan tetap eksis sebagai alat pembangun kedekatan emosional di kedua medium tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meski media sosial unggul dalam hal koordinasi, keintiman yang organik dan resolusi konflik tetap bertumpu pada kekayaan interaksi tatap muka. Transformasi yang terjadi justru melahirkan sebuah pola interaksi hibrida, dimana jagat digital berperan sebagai medium untuk menjaga kesinambungan hubungan (relationship maintenance), sementara pertemuan fisik tetap memegang kendali utama dalam membangun kedalaman emosional serta rasa saling percaya.

Sarwo Edy, Pancasakti University Tegal

Penelitian ini berpangkal pada fenomena pergeseran komunikasi remaja yang kini lebih banyak dimediasi oleh layar ponsel dibandingkan pertemuan fisik secara langsung. Fokus utama studi ini adalah menganalisa secara mendalam transformasi frekuensi dan karakteristik interaksi sosial remaja di Kota Tegal saat beralih dari ruang luring ke ranah daring. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi komparatif, data primer diperoleh dari hasil wawancara semiterstruktur terhadap informan berusia 15-18 tahun. Social Information Processing (SIP) Theory digunakan sebagai kerangka analisis untuk melihat adaptasi isyarat sosial di dunia digital. Hasil penelitian mengungkap bahwa meskipun durasi harian di media sosial sangat tinggi—rata-rata melebihi 3 hingga 4 jam—intensitas mengobrol secara substansial tidak mengalami perubahan drastis. Remaja cenderung melakukan kompensasi atas hilangnya isyarat non-verbal melalui penggunaan simbol visual seperti emoji dan stiker untuk meminimalisir salah paham. Uniknya, identitas lokal berupa bahasa Jawa Tegalan tetap eksis sebagai alat pembangun kedekatan emosional di kedua medium tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meski media sosial unggul dalam hal koordinasi, keintiman yang organik dan resolusi konflik tetap bertumpu pada kekayaan interaksi tatap muka. Transformasi yang terjadi justru melahirkan sebuah pola interaksi hibrida, dimana jagat digital berperan sebagai medium untuk menjaga kesinambungan hubungan (relationship maintenance), sementara pertemuan fisik tetap memegang kendali utama dalam membangun kedalaman emosional serta rasa saling percaya.

References

APJII. (2025). SURVEI PENETRASI INTERNET DAN PERILAKU PENGGUNAAN INTERNET.

Arganata, Z., & Hamka, M. Y. (2025). Pengaruh Media Sosial Terhadap Pola Komunikasi Generasi Z dalam Interaksi Sosial. Dinamika Sosial Dan Sains, 412–416.

Aulia, I. (2024). Analisis Pola Interaksi Sosial Remaja Siswa SMP Negeri 57 Jakarta. 2.

Fahrizandi, & Al Dhera, T. (2022). Komunikasi Lisan Dengan Tatap Muka Dalam Era Teknologi Komunikasi Organisasi Di Perpustakaan IAIN Pontianak. https://doi.org/10.29240/tik.v6i1.4071

Februari, N., & Rakhmaniar, A. (2024). Pengaruh Media Sosial Terhadap Keterampilan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja Kota Bandung yang menjadi perhatian dan perdebatan . Penelitian menunjukkan bahwa media sosial dapat remaja mengungkapkan temuan yang signifikan . Studi menunjukkan bahwa media sosial. 2(1).

Hanafi, M. I., Fikria, E. Z., & Triristina, N. (2025). PERUBAHAN INTERAKSI SOSIAL PENGGUNA APLIKASI TIKTOK SISWA SMK NEGERI 3 JOMBANG. 9(1), 1–9.

Lestari, N., & Edy, S. (2023). Pengaruh Intensitas Mengakses Instagram Dan TikTok Terhadap Perilaku Imitatif Pada Siswa SMA Al-Irsyad Kota Tegal. 1(2), 267–280.

Marwanda, T. S., Suryani, M. W., Amalia, S., & Dongoran, R. (2025). Pengaruh Media Sosial Terhadap Pola Komunikasi dan Interaksi Sosial di Kalangan Siswa. 6(1), 216–224.

Mulyani, D. R., & Florina, I. D. (2022). Studi Komparatif Efektivitas Instagram dan Tiktok terhadap Keterbukaan Diri Mahasiswa Universitas Pancasakti Tegal. 1(1), 60–74.

Riyanto, A. D. (2025). Hootsuite (We are Social): Data Digital Indonesia 2025. 28 Februari 2025.

Rizqi, F., & Rahmawati, F. (2024). Pengaruh pola interaksi terhadap kepercayaan diri remaja. 5(1), 33–52.

Septriawan, R. (2024). Media Sosial Berpengaruh Pada Perubahan Perilaku Sosial Remaja Kota Medan Di Era Digital. Jurnal Multidisiplin Sosial Dan Humaniora, 1(2), 84–102. https://doi.org/10.70585/jmsh.v1i2.47

Social, W. A. (2025). Indonesia Digital Report 2025.

St. Amant, K., & Kelsey, S. (2021). Computer-Mediated Communication across Cultures : International Interactions in Online Environments.

Suparto, D. (2021). Efektivitas Penggunaan Sosial Media Twitter Dalam Penyebaran Informasi Dalam Pelayanan Publik ( Studi Kasus Kabupaten Pemalang ). 04(02), 161–172.

Wichaksana, G. D., Edy, S., & Permadi, D. (2022). Pengaruh Intensitas Mengakses Akun Komunikasi Dakwah Di Instagram Terhadap Perilaku Imitatif Mahasiswa FISIP Universitas Pancasakti Tegal. 1(1).

Downloads

Published

2026-03-24

Similar Articles

<< < 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.