Komunikasi Interpersonal Dokter dan Pasien Gigi dan Mulut dalam Tindakan Pre dan Post Operasi Gigi dan Mulut di RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Penulis

  • Edelweis Putri Prima Stikosa - AWS

DOI:

https://doi.org/10.37826/spektrum.v6i1.47

Kata Kunci:

Komunikasi Interpersonal, Dokter, Pasien, Komunikasi Efektif

Abstrak

Penelitian berjudul “Komunikasi Interpersonal Dokter dan Pasien Gigi dan Mulut dalam Tindakan Pre dan Post Operasi Gigi dan Mulut di RSUD. Dr. Soetomo Surabaya” ini bermaksud untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi interpersonal yang digunakan oleh dokter spesialis bedah mulut dan maksilofasial dan pasien operasi gigi dan mulut. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan informan 3 orang pasien operasi gigi dan mulut serta 3 orang dokter gigi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Komunikasi Interpersonal Dokter dan Pasien Gigi dan Mulut dalam Tindakan Pre dan Post Operasi Gigi dan Mulut. Hasil dari penelitian ini adalah komunikasi interpersonal pre dan post yang berlangsung positif memberikan dampak penting bagi pasien, dokter, dan juga keluarga pasien. Komunikasi yang positif telah terbukti memiliki dampak menguntungkan, sebaliknya komunikasi yang negatif justru dapat menyebabkan keseluruhan dampak yang negatif dokter maupun pasiennya. Untuk meningkatkan efektifitas komunikasi interpersonal antara dokter dan pasien terdapat banyak cara. Tetapi dari sekian banyak cara, terdapat cara yang bisa dianggap mudah untuk menciptakan komunikasi yang efektif yaitu Positiveness (sikap positif), Empathy (merasakan perasaan orang lain), Supportiveness (sikap mendukung), Equality (keseimbangan antar pelaku komunikasi) dan Openess (sikap dan keinginan untuk terbuka). Disarankan untuk pasien dan keluarga pasien lebih aktif menanyakan soal apa yg harus dilakukan pre tindakan operasi gigi dan mulut selain itu juga menyampaikan keluhan serta dampak yang ditimbulkan post operasi gigi dan mulut kepada dokter, kemudian untuk dokter spesialis bedah mulut dan maksilofasial yang menjalankan tindakan operasi juga harus kooperatif serta aktif memberikan informasi kepada pasien dan keluarga pasien agar komunikasi antara dokter dan pasien dapat terjalin dan berlangsung positif dan efektif.

  

Referensi

Edelmann, R.J. 2000. Psychosocial Aspects of the Health Care Process. London: Prentice Hall
Effendy, Onong Uchjana. 2009. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Devito, Joseph A. 2006. Human Communication : The Basic Course, 10th ed. Boston: Pearson Education Inc.
Hanani, Silfia. 2017. Komunikasi Antarpribadi, Teori dan Praktik. Yogyakarta. Ar-ruzz Media.
Irawan, Prasetya Dr, M.Sc. 2007. Penelitian Kualitatif & Kuantitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Departemen Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.
Ong, L.M., de Haes, J.C., Hoos, A.M. and Lammes, F.B. 1995. Doctor–Patient Communication: A Review Of The Literature, Social Science and Medicine.
Mayersak RJ. 2013. Facial trauma. In: Marx JA, Hockberger RS, Walls RM, et al, eds. Rosen’s Emergency Medicine: Concepts and Clinical Practice. Edisi ke-8. Philadelphia, PA: Mosby Elsevier
Moerdijati, Sri. 2012. Pengantar Ilmu Komunikasi. Surabaya. Departemen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga.
Morissan, Andy Corry Wardhany. 2009. Teori Komunikasi. Jakarta. Penerbit Ghalia Indonesia.
Mulyana, Deddy. 2003. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.
Mundakir, 2016. Komunikasi Pelayanan Kesehatan. Yogyakarta. Indomedia Pustaka.
Saptaning Wilujeng, Catur, Tatag Handaka. 2017. Komunikasi Kesehatan: Sebuah Pengantar. Malang. Ub Press.

Diterbitkan

2018-06-25

Artikel Serupa

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.